UNTUK PENDAKI CERDAS DAN PEMULA/NEWBIE
Pemula/newbie/nubie merupakan status paling dasar dalam setiap pekerjaan apa pun. Karena umumnya tidak berpengalaman, sah-sah saja bila mereka kemudian bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa. Dalam dunia petualangan pun sama. Hal ini pernah saya alami belasan tahun lalu. Karena bingung harus mempersiapkan apa, membawa apa, bagaimana caranya, dan sebagainya, akhirnya semua yang saya kerjakan, ya seadanya. Tapi tenang. Hal ini tak perlu terulang pada diri kalian, karena saya akan membagikan beberapa pengalaman dan tips mendaki gunung untuk pemula seperti kita-kita—secara mendetil.
Pemula/newbie/nubie merupakan status paling dasar dalam setiap pekerjaan apa pun. Karena umumnya tidak berpengalaman, sah-sah saja bila mereka kemudian bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa. Dalam dunia petualangan pun sama. Hal ini pernah saya alami belasan tahun lalu. Karena bingung harus mempersiapkan apa, membawa apa, bagaimana caranya, dan sebagainya, akhirnya semua yang saya kerjakan, ya seadanya. Tapi tenang. Hal ini tak perlu terulang pada diri kalian, karena saya akan membagikan beberapa pengalaman dan tips mendaki gunung untuk pemula seperti kita-kita—secara mendetil.
Nah, hal-hal seperti apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum kalian memulai petualangan? Baca terus artikel ini sampai tuntas. Jangan disisakan. Karena senang menyia-nyiakan itu sifatnya setan.Gak mau kan, jadi setan?
Mulai dari gunung yang paling mudah
Gunung yang dituju pendaki pemula biasanya berbeda dengan gunung yang dituju oleh pendaki moderat atau advance. Walau sebenarnya tidak menutup kemungkinan, gunung yang dituju oleh ketiga jenis pendaki ini akan saling bersinggungan/overlapping antara satu sama lain.
Misalnya; Gunung Gde dan Gunung Papandayan yang dalam ‘aturan’ tak tertulis selalu dianggap sebagai gunungnya pemula, seringkali didaki para pendaki kawakan. Sementara (puncak) Gunung Semeru yang medannya cukup berat, bahkan telah beberapa kali meminta korban, tak jarang dijadikan sebagai gunung pertama bagi para pendaki pemula.
Tak ada yang salah dengan pola ini. Sah-sah saja. Toh tak ada pasal baku yang mengatur bahwa pendaki pemula hanya boleh mendaki Gunung A, B, dan C, dan tidak boleh mendaki Gunung X, Y, dan Z. Selama mental dan fisik dirasa kuat, sikat!
Namun… alangkah baiknya bila para pendaki pemula memulai petualangannya dari gunung-gunung yang relatif mudah. Alasannya, selain menghindari kemungkinan trauma (baca: kapok), juga sebagai sarana latihan penyesuaian diri—baik secara fisik, mau pun mental—terhadap lingkungan yang baru.
Rencanakan waktu eksekusi dan durasi pendakian
Para pemula, sangat dianjurkan memilih waktu pendakian pada musim panas/kemarau atau musim pendakian. Sebisa mungkin, hindari pendakian di musim hujan. Karena, selain usaha yang dibutuhkan jauh lebih banyak, baik secara fisik mau pun mental, mendaki (hiking) di musim hujan sangat rentan dihadang berbagai ancaman perjalanan, seperti; basah kuyup, jalur yang licin, badai gunung, pohon tumbang, dan lain sebagainya.
Untuk durasi perjalanan, bisa dimulai dengan rentang 2 hari 3 malam pergi-pulang. Jangan terlalu panjang. Ingat! Suhu di gunung itu, dingin(nya bukan main). Bila kalian belum terbiasa, terlalu lama berada di sana pasti akan sangat menyiksa.
Kabar baiknya, peluang melakukan perjalanan dengan rentang sesingkat ini bisa kita peroleh sebanyak 4 kali dalam sebulan, pada setiap akhir minggu (weekend). Jadi, bagi kalian yang berstatus karyawan, tentu tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan ijin cuti, kan?
Sementara bagi yang masih berstatus pengangguran, mari kita doakan semoga mereka segera mendapatkan pekerjaan. Amin. *Pendaki syariah mode
Persiapan fisik
Suhu di pegunungan dengan suhu kota, kontras berbeda. Perubahan suhu yang relatif cepat tentu akan berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh seseorang. Persis seperti dampak yang ditimbulkan oleh perubahan musim atau pancaroba.
Bila perubahan aktifitas dari kota ke gunung ini tidak didahului dengan persiapan fisik dan persiapan aklimatisasi yang optimal, dikhawatirkan dapat mengganggu jalannya proses pendakian. Entah itu mengganggu diri sendiri, terlebih lagi mengganggu teman-teman lain dalam satu tim.
Contoh sederhananya; terkilir.
Otot kaki yang jarang digunakan untuk berolahraga cenderung rentan cedera bila tiba-tiba dipaksa melakukan pekerjaan berat seperti berjalan selama berjam-jam (trekking). Padahal itu pun belum menghitung kondisi medan yang menanjak dan beban tambahan di punggung kita—yang berat rata-ratanya, minimal 5 kg per orang.
Bila cederanya masih ringan, yang kewalahan paling-paling, ya, diri kita sendiri. Tapi, bila otot yang cedera ringan tersebut terus dipaksakan, lambat laun pasti menjadi cedera berat. Kalau sudah begini, atas nama solidaritas, teman-teman lain tentu bakal ikut menanggung akibatnya.
Sekarang coba bayangkan:
Bila cedera ini terjadi pada masa awal-awal pendakian, padahal jarak camp site (tempat mendirikan tenda) yang dituju masih jauh, serta harus melewati beberapa pos/shelter lagi dengan medan yang terjal pula. Serepot apa kira-kira yang akan dirasakan si cedera dan anggota tim lain? Bagaimana pula repotnya saat pulang atau turun gunung nanti?
Di gunung, segalanya mungkin terjadi, bahkan kadang sulit dipahami. Orang yang kita kenal paling kuat, belum tentu menjadi yang terkuat saat berada di sana. Si Kerempeng belum tentu lebih lemah daripada Si Kekar.
Lalu, persiapan fisik seperti apa sajakah yang bisa dilakukan sebelum aktifitas naik gunung ini dilaksanakan? Berikut, beberapa di antaranya:
- Lari. Olahraga murah meriah ini bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Asal jangan terlalu larut malam, apalagi sambil membawa banda orang. Target yang disasar dari olahraga lari ada 2, yaitu; stamina dan kekuatan kaki. Di mana, keduanya merupakan komponen fisik vital yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya seseorang saat melakukan kegiatan pendakian.
- Jalan dengan beban. Selain sebagai alat bantu simulasi mendaki, latihan ini juga bertujuan untuk menguatkan sektor kaki serta tubuh bagian atas. Ia bisa dilakukan secara rutin. Boleh seminggu sekali, seminggu 2 kali, atau seminggu 3 kali. Berat bebannya boleh bervariasi, mulai dari 3 kg, 5 kg, 10 kg, 1 kuintal, 1 ton. Terserah. Itu hak kalian. Sekuatnya saja.
Saya sendiri, biasa latihan dengan menggendong beban seberat 10 kg sambil berjalan pelan selama 1-2 jam. Semakin berkontur jalur latihannya, semakin baik pula kualitas simulasinya.
- Renang. Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kapasitas oksigen yang mampu kita hirup. Bila oksigen yang kita butuhkan semakin meningkat seiring level kedalaman yang dicapai saat melakukan kegiatan menyelam, begitu pun dengan kegiatan mendaki.
Semakin tinggi elevasi gunung yang didaki, semakin tipis pula kadar oksigen yang tersedia. Yang karenanya, tubuh kita akan membutuhkan lebih banyak asupan oksigen daripada biasanya. Dan renang berguna untuk mempersempit celah, antara pola kebutuhan oksigen di kota dengan di ketinggian.
- Aklimatisasi. Secara umum, aklimatisasi berarti membiasakan diri dengan perubahan suhu, iklim, atau kondisi baru. Untuk aktifitas pendakian, latihan ini menempati urutan vital kedua setelah lari. Bagi kalian yang tinggal di daerah pegunungan, proses aklimatisasi ini mungkin tak lagi diperlukan. Namun bagi yang terbiasa tinggal di wilayah perkotaan atau dataran rendah, latihan ini sangat disarankan untuk dilakukan. Bagaimana caranya? Silahkan baca artikel sebelumnya.
Ada beberapa catatan yang perlu kalian pertimbangkan terkait proses aklimatisasi di lokasi pendakian nanti, yaitu; perbanyak minum, mendaki secara perlahan, hindari kafein dan nikotin, serta hentikan pendakian bila gejala altitude sickness—seperti; mual, muntah, pusing,hyperventilation (bernapas secara berlebihan dan dalam), limbung, dan lain sebagainya—tiba-tiba menyerang, sekecil apa pun itu.
- Makan teratur dan istirahat cukup. Para pakar percaya, bahwa penyakit itu paling banyak diakibatkan dari pola hidup yang tidak sehat. Mulai dari mengkonsumsi minuman dan makanan yang tidak sehat, sampai pola tidur yang tak teratur.
Bila ukuran ‘latihan’ hanya sebatas pada aktifitas melatih otot dan membakar kalori saja, tentu poin terakhir ini tidak termasuk dalam kategori, bukan?
Tapi jangan salah. Melulu melatih otot dan membakar kalori tentu tidak akan berarti jika tidak diimbangi dengan proses recovery yang memadai. Baik recovery fisik mau pun mental.
Nah! Terkait memilih makan makanan yang sehat, sebenarnya kita bisa berguru pada binatang kambing. Ia rajin betul mengkonsumsi “sayur-sayuran hijau” dan selalu menghindari mengkonsumsi makan-makanan berkolesterol. Makanya mereka selalu sehat wal’afiat.
Kalau tidak percaya, coba saja kalian cari. Mana ada kambing yang mengidap penyakit darah tinggi atau stroke? Padahal kita semua tahu, mereka itu satu badan isinya kolesterol semua. Ya, kan? Hail Shaun the Sheep!
Persiapan mental
Naik gunung jelas membutuhkan kesiapan fisik yang prima. Namun itu saja tidak cukup. Kita juga butuh kesiapan mental yang optimal. Jadi, bila diibaratkan, fisik itu mesinnya, sementara mental adalah bensinnya. Sesangar apa pun tenaga yang dimiliki mesin, kalau tidak ada bensin, tetap tidak bisa bekerja.
Maka tak heran bila setiap peserta baru hampir seluruh organisasi pecinta alam harus mengalami yang namanya masa perploncoan. Bahkan kadang harus rela menerima kekerasan fisik dari para seniornya. Dan yang disebutkan terakhir inilah yang membuat saya mengurungkan niat mendaftarkan diri pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam di kampus dahulu. *Curhat colongan
***
Terkait persiapan mental. Ada teknik sederhana untuk mengontrol emosi yang pernah saya temukan, coba sendiri, dan berhasil. Dan kabar baiknya, kita tak perlu mengeluarkan biaya sama sekali alias gratis! Yah, cocok lah untuk ukuran kantong saya. Apalagi kalian. :p
Untuk mengetahui seperti apa wujud latihannya, ini dia tekniknya:
Antara pukul 11.00 – 13.00 siang, cobalah jalan kaki/trekking ringan di bawah terik sinar matahari langsung. Hindari bayang-bayang pohon dan gedung. Usahakan sebisa mungkin, mimik/ekspresi wajah kalian tidak berubah walau panasnya sangat menyengat.
Bayangkan layaknya kalian sedang berjalan di dalam ruangan ber-AC yang nyaman. Posisi badan tegap, dengan pandangan lurus ke depan. Jangan menunduk!
Bila mengontrol mimik/ekspresi wajah dirasa sulit, gantilah dengan senyum ringan, tapi jangan ditujukan ke setiap orang. Takut dikira gila.
Lakukan latihan ini sesering mungkin, dengan rentang minimal 30 menit per sesi latihan. Saya pribadi melakukan latihan ini rutin selama 3-6 bulan, hampir setiap hari. Dan sebagai hasil akhirnya, tidak hanya mental/emosi saya saja yang lebih terkendali, tapi warna kulit pun jadi jauh lebih eksotis. Persistanning overdosis.
***
Dalam kamus saya, naik gunung itu lebih kepada perkara mental daripada fisik. Bukan berarti fisik tidak penting. Ia juga penting. Hanya, mental lah yang seringkali menjadi faktor penentu berhasil tidaknya seseorang mencapai puncak/tujuan.
Jika memungkinkan, perhatikan juga kondisi fisik dan mental rekan-rekan satu tim kalian. Bersikaplah proaktif. Siapkan diri memberikan dukungan moral kepada teman-teman yang membutuhkan.
Berpikirlah layaknya masing-masing dari kalian adalah ketua panitia pelaksana, yang sangat ingin acara pendakian tersebut berhasil. Leave no one behind. Hope for the best, plan for the worst.
Cari info sebanyak-banyaknya
Di dunia maya atau internet, semua informasi tersedia. Mulai dari yang paling umum, sampai yang paling aneh sekali pun. Semua tumplek blek di sana, sehingga yang namanya merencanakan perjalanan, di masa sekarang, bisa dibilang relatif gampang. Tinggal mengetik keyword di textboxpencarian, tekan tombol cari, dan dalam sekejap semua tersedia di depan mata. Kita tinggal pilih saja mau yang mana.
Terlihat mudah, ya?
Pastinya!
Sayangnya, kemudahan ini hanya berlaku untuk pencarian topik-topik yang bersifat umum saja. Sementara informasi yang sifatnya “rare item” atau langka seringkali demikian sulit didapatkan. Sesulit menagih hutang menahun.
Informasi langka ini bisa mewujud dalam beragam rupa, seperti misalnya;
- Detil destinasi wisata yang relatif baru dan jarang orang tahu (baca: destinasi wisata anti-mainstream).
- Data spesifik dan valid tentang sesuatu hal. Pada beberapa kasus yang pernah saya alami, jenis data ini bahkan sangat sulit dicari, walau ia berada dalam ranah topik populer sekali pun. Contohnya saat penggarapan artikel Gunung Bromo beberapa waktu lalu.
Untuk mencari tanggal pasti pembangunan tangga Gunung Bromo saja, saya harus mengacak-acak puluhan dokumen sejarah. Itu pun, hanya mendapatkan tahun perkiraannya saja—yaitu; 1901. Dan tahukah kalian, alasan mengapa tangga tersebut dibangun?
Ia dibangun hanya karena pada saat itu, Gubernur Jendral Hindia Belanda (Willem Roosenboom?) ingin mampir dan melihat dari dekat kawah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Suku Tengger tersebut.
Secara garis besar, informasi yang sebaiknya dicari sebelum kita melakukan kegiatan naik gunung, terbagi dua, yaitu; informasi yang terkait dengan perjalanan menuju lokasi, dan informasi yang terkait dengan lokasi pendakian itu sendiri. Jadi, bila kita breakdown, kedua jenis informasi ini akan tampak seperti berikut:
Terkait perjalanan
- Estimasi/perkiraan biaya perjalanan. Mulai dari transportasi, akomodasi, makan, guide, dan lain sebagainya.
- Moda transportasi yang bisa digunakan untuk sampai di tujuan—darat, laut, dan/atau udara. Banyak tersedia atau jarang, mahal atau murah, sewa atau umum, bila menyewa maksimal bisa mengangkut berapa orang, harus booking terlebih dahulu atau langsung on the spot, dan lain-lain.
Terkait lokasi pendakian
- Peta topografi (peta kontur). Banyak pendaki Indonesia menganggap peta kontur “tidaklah terlalu penting.” Alasannya sederhana; pertama, jalur pendakian yang ada umumnya sudah sangat jelas karena memang sering dilalui. Kedua, kalau pun jalurnya sulit, toh masih bisa mengandalkanguide atau teman-teman yang lebih senior atau lebih dahulu datang ke gunung bersangkutan. Dan yang ketiga, selain peta kontur ini biasanya sulit didapat, harganya pun relatif mahal.
Sejauh yang saya ingat dari bertahun-tahun aktifitas naik gunung, baru sekali saya menggunakan peta kontur plus tambahan perangkat Global Positioning System (GPS), yaitu pada saat mendakiGunung Papandayan via jalur Cibutarua menuju ke Tegal Panjang.
Jalur tersebut sangat jarang dilalui pendaki (jalur penduduk) sehingga membuat trek yang ada, rata-rata telah tersamarkan oleh ilalang-ilalang baru. Jadi, tanpa peta kontur dan GPS, kemungkinan tersesatnya cukup tinggi. Apalagi bagi yang baru pertama kali bertandang ke Tegal Panjang.
Untuk gunung-gunung yang sering didaki dan memiliki trek serta papan petunjuk yang jelas, bagian “Peta Topografi” bisa kalian lewati. Namun untuk gunung-gunung yang jarang didaki, sebisa mungkin, usahakanlah membawa, menggunakan, dan mempelajarinya. Karena peta ini bisa jadi penolong bilamana, amit-amit jabang baby, tersesat.
Tentu, sebelum bisa membaca peta topografi, kalian diharuskan mempelajari materi navigasi. Pe-er memang. Tapi begitu dikuasai dan dibutuhkan, kemampuan ini bisa menyelamatkan nyawa banyak orang termasuk diri kalian.
- Pos/shelter. Carilah informasi terkait jarak antar pos/shelter, elevasi, perkiraan lama perjalanan antar masing-masing pos tersebut, serta di pos/shelter mana saja kalian bisa/boleh mendirikan tenda. Tujuannya, tentu untuk menyusun strategi pendakian terbaik agar berkesesuaian dengan kemampuan seluruh anggota tim.
- Sumber air. Setiap gunung memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Ada yang berkelimpahan sumber air (seperti; Gunung Semeru, Gunung Gede Pangrango, Gunung Papandayan, dan Gunung Rinjani), ada pula yang tidak memiliki sumber air sama sekali (seperti; Gunung Merapi dan Gunung Cikuray).
Ketahuilah status ketersediaan sumber air pada gunung yang akan kalian daki. Dalam kegiatan petualangan alam liar, air termasuk dalam salah satu komponen vital. Kekurangan air bisa menyebabkan dehidrasi, dan pada level yang lebih tinggi lagi, ia berpotensi membahayakan nyawa.
Perlu dicatat. Semakin dingin suhu gunung yang didaki, semakin cepat pula proses dehidrasi yang akan kalian alami. Karenanya, mengkonsultasikan volume kebutuhan air kepada pendaki-pendaki yang lebih senior atau ranger gunung setempat adalah perbuatan bijak.
- Nomor-nomor telepon penting. Di antara semua poin yang ada, mungkin cuma poin ini saja yang paling absurd. Karena kita wajib menyediakannya, namun sangat tidak dianjurkan menggunakannya. Sebab, bila sampai menggunakannya, artinya kita sedang ‘celaka.’
Catat dan simpanlah nomor-nomor telepon penting, seperti; Search and Rescue (SAR),ranger/volunteer/kelompok pecinta alam setempat, rumah sakit terdekat, dan pihak-pihak berwenang lainnya. Buat beberapa kopi, dan bagikan kepada masing-masing peserta, sehingga bila sesuatu yang buruk terjadi, semua peserta memiliki informasi, dan tahu harus menghubungi siapa.
- Prakiraan cuaca. Berdasarkan pengalaman pribadi, cuaca di gunung itu cenderung tidak bisa diprediksi. Walau misalnya, sekarang sedang musim hujan, belum tentu saat kita naik gunung nanti juga akan hujan. Bisa saja, sepanjang berhari-hari masa pendakian, cuacanya malah cerah secerah-cerahnya. Begitu pun sebaliknya.
Maka jangan heran bila suatu saat nanti, kalian bertemu dengan pendaki yang baru turun gunung dan mereka mengatakan diguyur hujan selama berada “di atas,” tapi setelah kalian mendaki selama beberapa hari, malah tak ada hujan sama sekali. Jadi, menurut istilah saya, gunung itu seperti ‘memiliki’ prakiraan cuacanya sendiri.
Namun demikian, potensi hujan, cerah, badai, atau berkabut itu memang lebih berpeluang terjadi di musim yang bersangkutan. Rasionya berkisar antara 75:25, 85:15, sampai 100:0.
Misal:
Diketahui, saat ini mayoritas sedang musim hujan. Dengan menggunakan perhitungan rasio di atas, maka potensi cuaca yang akan kita hadapi saat mendaki akan tampak seperti ini:
- 75% hujan, 25% cerah
- 85% hujan, 15% cerah
- 100% hujan, 0% cerah
Pun sebaliknya. Jika saat ini sedang musim panas/kemarau, maka, kemungkinannya akan seperti ini:
- 75% cerah, 25% hujan
- 85% cerah, 15% hujan
- 100% cerah, 0% hujan
Untuk mengetahui kondisi cuaca pada gunung yang hendak kalian daki, sebaiknya konsultasikan dengan contact person atau petugas ranger setempat—bisa via telepon, email, atau datang langsung bila lokasinya relatif dekat.
Atau, alternatif lainnya, bisa dilakukan dengan cara memantau terus situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca di Indonesia.
- Pengalaman pendaki senior. Walau faktor usia kadang sering menentukan rentang pengalaman mendaki seseorang, namun di dunia petualangan, tak jarang, ia overlapping dengan level pengalaman.
Cukup banyak kasus di mana pendaki yang jauh lebih muda, ternyata memiliki lebih banyak pengalaman ketimbang pendaki-pendaki… aduh, gak enak ngomongnya… tua.
Galilah informasi dari mereka-mereka yang sudah pernah, minimal satu kali, mendaki gunung yang hendak kalian tuju. Bila tak ada satu pun teman yang pernah ke sana, kalian bisa memanfaatkan blog, situs, atau forum-forum petualangan yang banyak tersebar di internet.
Tak punya akses internet sendiri? Bisa menumpang pada teman. Tak ada teman yang punya akses internet? Tinggal mampir ke warnet. Tak punya uang untuk main di warnet? Patungan dengan teman-teman. Tak punya uang, teman, akses internet, dan warnet?
Lah! kalian bisa mampir ke sini (simplyindonesia) lewat mana?
- Peraturan yang berlaku. Setiap gunung memiliki peraturannya (larangan dan anjuran) sendiri-sendiri yang harus ditaati. Mulai dari cara booking/registrasi pendakian (online dan/atau offline) hingga prosedur pendakian, Tujuannya, selain untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang terlibat, juga menjaga kelestarian alam tempat mereka berkegiatan.
Peraturan ini sendiri terbagi dua; tertulis, dan tidak tertulis. Yang tertulis biasanya berupa peraturan resmi yang memang dikeluarkan oleh pihak pengelola gunung bersangkutan. Sementara peraturan tidak tertulis—walau tidak mesti—umumnya lebih banyak melibatkan unsur-unsur klenik/mistis.
#BOEANA_Adventure
#BOEANA_Adventure





Tidak ada komentar:
Posting Komentar