Minggu, 17 April 2016

CATATAN UNTUK PENDAKI GUNUNG

Persiapan & Perlengkapan Wajib dalam Pendakian

Gunung adalah bagian alam yang mempunyai keindahan dan keunikan.di samping itu gunung juga mempunyai kedasyatan yang berbahaya.
Pendaki tuntut untuk lebih mengetahui kondisi alam, hal ini akan menumbuhkan rasa cinta terhadap alam yang mendorong rasa keberanian untuk mengetahui keindahanya dengan jalan mendaki gunung
Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan pendakian adalah
1. rencana ekspedisi
2. pengumpulan data tentang gunung yang akan kita daki
3. pemahaman yang baik tentang peta, kompas dan navigasi
4. menetapkan manfaat dari pendakian tersebut
5. persiapan diri bagi pendaki
Adapun faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan suatu pendakian:
* faktor internal, merupakan faktor dari diri si pendaki meliputi kesiapan fisik, mental pengetahuan, tehnik atau kererampilan dan peralatan.
* faktor eksternal,merupakan faktor diluar diri sipendaki meliputi badai, hujan, udara dingin dan kondisi alam lainya.
Pendaki gunung terlebih dahulu hendaknya harus melengkapi diri dengan keterampilan seperti: membaca dan memahami peta,membaca kompas, teknik P3K dan perlengkapan yang memadai( logistik tenda,obat obatan dan pakaian).sebelum melakukan pendakian, pendaki harus memberi tahu dahulu kepada masyarakat setempat.dimana kita akan melewati jalur pendakian.
PERLENGKAPAN MENDAKI GUNUNG
1. Carrier atau tas Ransel (frame pack, ukuran besar, 30 – 60 liter).One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek).
Carrier berguna untuk meletakkan barang-barang yang akan kita bawa dalam pendakian, yang perlu kita ingat dalam penggunaan Carrier adalah kenyamanan dan fungsinya. Pertimbangan dalam memilih carrier adalah;
– Ringan. Sebaiknya memilih Carrier yang terbuat dari bahan water proof, bahan initidak menyerap banyak air disaat basah dan juga dapat melindungi isi nya.
– Kuat. Mampu membawa beban dengan aman,tidak mudah robek dan berdaya tahan tingi.
– Nyaman (comfort table) Carel yang mempunyai rangka, ini berguna agar berat beban merata dan seimbang keseluruh tubuh. Tali penyadang Carel harus kuat, agak lebar, empuk dan mudah distel.
Cara-cara mempacking ialah
– Tempatkanlah barang-barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkinkebadan. Barang barang yang relatif lebih ringan ditempatkan dibagian bawah.
– Kelompokan barang yang sering diperlukan dalam perjalanan dan ditempatkan pada bagian atas atau pada kantong kantong luar Cerel seperti: ponco,alat P3K,kamera dan lain lain.
– dan masukan kedalam kantong pelastik yang tidak tembus air terutama pakaian , buku dll
– sebisa mungkin carrier di lapisi matras agar bentuk sesuai dengan aslinya carrier dan untuk mempermudah pengepakan dan kenyamanan
2. Tenda(dilengkapi lembaran kain parasut)
Mengenai tenda yang harus diperhatikan adalah tenda yang dapat menahan hujan dan
angin.seperti Tenda doom yang dilengkapi cover dan ruangan inti, Untuk mendirikan tanda usahakan di tempat yang datar mendekati mata air jauh dari pohon – pohon yang kering dan menghadap jalan .
3. Perlengkapan Masak dan Makanan
Alat – alat perlengkapan masak yang di bawa harus praktis dan efisien seperti Nasting, kompor gas tabung . kompor paraffin, kompor sepritus, Sedangkan makanan yang dibawa harus makanan yang ringkas dan mudah dimasak seperti ransum tentara, mie, sarden, kornet, susu kaleng dan makanan lain yang banyak mengandung hidrat arang atau makanan yang banyak menghasilkan energi seperti coklat, gula merah dan madu. Jika di perkirakan ada rencana untuk berhenti lama di camp/shelter bisa juga membawa beras dan sayuran untuk menghilangi acara jenuh dengan memasak dan untuk kebutuhan kalori tubuh. Bawa juga piring plastic dan gelas atau cangkir yang terbuat dari plastik termasuk tempat minum selama perjalann (veples atau nalgene).tisu sebagai pembersih tempat makan atau memasak. Untuk menghemat pemakaian air.
4. Pakaian
Karena sering terjadi perubahan cuaca, maka sebaiknya menggunakan pakaian yang dapat menyerap keringat, jangan lupa membawa jaket atau sweter, sarung tangan, topi rimba atau sebo yang berwarna norak, gunanya seandainya tersesat akan mudah terlihat oleh TIM SAR. Bawa juga pakaian ganti.sesuaikan dengan lama perjalanan yang direncanakan
Dalam perjalanan mendaki gunung sebaiknya mengenakan pakaian yang mudah kering atau tidak terlalu menyerap air bila basah.
5. perlengkapan tidur
Mengenai perlengkapan tidur sebaiknya menggunakan Sleeping Bag (kantong tidur), bahan yang bagus adalah dari jenis Down dan Duvet (terbuat dari bulu angsa) atau dari bahan parasut.yang berisi busa tipis atau dalamnya terbuat dari bahan polar. Balaklava,
6. Sepatu atau Sandal Gunung
Gunanya untuk melindungi kaki kita dari batu tejam, kayu runcing, gigitan binatang serta duri – duri yang banyak kita temui selama perjalanan mendaki gunung tersebut.
Adapun syarat – syarat sepatu yang baik yaitu sepatu yang mempunyai kembang yang besar dengan ceruk yang dalam dan berpunggung yang tanggi, gunanya untuk memantapkan posisi kaki terhadap tebing yang curam dan bebatuan yang terjal.dan ketinggian sepatu menutupi mata kaki. Sebaiknya menggunakan sepatu atau sandal yang bahanya terbuat dari karet karena tidak mudah robek bila terkena duri atau batu yang cadas dan memakai sepatu atau sandal yang berukuran lebih besar untuk menghindari kelecetan pada kaki.
7. Jas Hujan atau Ponco
Gunanya apabila keadaan atau cuaca disana tidak mendukung atau hujan kita bisa menggunakan jas hujan atau ponco tersebut untuk melindungi tubuh kita dari air hujan, sehingga kita tidak basah dankedinginan.bawa juga Rain Coat yang berbentuk jaket
8. Lentera atau Senter
Gunanya untuk penerangan, apabila kita melakukan pendakian pada malam hari dan untuk penerangan dalam tenda dimalam hari bawa juga batu baterai cadangan.bohlam cadanga serta lilin atau lampu kapal atau anti badai..
9. Peralatan P3K
Peralatan ini sangat penting untuk mengatasi keadaan yang tidak diduga seperti terkena duri, sengatan binatang, digigit ular dan lain – lain.
Beberapa bahan atau peralatan P3K yang harus dibawa antara lain:
1. Betadine.
2. Kapas.
3. Kain kassa.
4. Perban.
5. Rivanol.
6. Alkohol 70%.
7. Obat alergi: CTM.
8. Obat maag.
9. Tensoplast (agak banyak)
10. Parasetamol.
11. Antalgin.
12. Obat sakit perut (diare): Norit, Diatab
13. Obat keracunan: Norit.
14. Sunburn preventif: Nivea atau Sunblock
15. Oralit (untuk mengganti cairan tubuh yang hilang; bisa diganti larutan gula-garam).
10. Perlengkapan untuk MCK meliputi: Haduk,Sabun, Sikat gigi, Odol Dan lain – lain.
11. Survival Kit
Perlengkapan ini digunakan pada keadaan darurat dan biasanya di tempatkan pada 1 wadah khusus dan sebisa mungkin ringkas dan selalu terbawa kemanapun dan dalam keadaan apapun selama kita di perjalanan.
1. Kaca cermin.
2. Peniti.
3. Jarum jahit.
4. Benang nilon.
5. Mata pancing dan senar pancing.
6. Silet atau cutter atau Knife kit(pisau Serbaguna)
7. Korek api dalam wadah water proof dan lilin
8. Peluit
12. Perlengkapan lain adalah perlengkapan yang di sesuaikan dengan tujuan pendakian tersebut seperti:
1. Perlengkapan penelitian : kamera, buku – buku dan alat – alat tulis lainya.
2. Perlengkapan penyusuran sungai: perahu, dayung, pelampung dan lain – lain.
3. Perlengkapan pendakian tebing: tali karmantel, karbinel, chock, figure x dan lain- lain.
4. perlengkapan pengusir jenuh. Seperti radio kecil atau walkman
5. Golok Tebas, Teropong dan alat dokumentasi spt kamera
6. Kompas, Peta kontur gunung tang akan kita jadikan tujuan pendakian.atau GPS

Sumber : diktat DIKLATSAR MAPALA
BOEANA Adventure Pekalongan
Bo'em Boeana

http://google.com

UNTUK PENDAKI KEKINIAN.

UNTUK PENDAKI CERDAS DAN PEMULA/NEWBIE

Pemula/newbie/nubie merupakan status paling dasar dalam setiap pekerjaan apa pun. Karena umumnya tidak berpengalaman, sah-sah saja bila mereka kemudian bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa. Dalam dunia petualangan pun sama. Hal ini pernah saya alami belasan tahun lalu. Karena bingung harus mempersiapkan apa, membawa apa, bagaimana caranya, dan sebagainya, akhirnya semua yang saya kerjakan, ya seadanya. Tapi tenang. Hal ini tak perlu terulang pada diri kalian, karena saya akan membagikan beberapa pengalaman dan tips mendaki gunung untuk pemula seperti kita-kita—secara mendetil.
Nah, hal-hal seperti apa sajakah yang perlu dipersiapkan sebelum kalian memulai petualangan? Baca terus artikel ini sampai tuntas. Jangan disisakan. Karena senang menyia-nyiakan itu sifatnya setan.Gak mau kan, jadi setan?

Mulai dari gunung yang paling mudah
Gunung yang dituju pendaki pemula biasanya berbeda dengan gunung yang dituju oleh pendaki moderat atau advance. Walau sebenarnya tidak menutup kemungkinan, gunung yang dituju oleh ketiga jenis pendaki ini akan saling bersinggungan/overlapping antara satu sama lain.

Misalnya; Gunung Gde dan Gunung Papandayan yang dalam ‘aturan’ tak tertulis selalu dianggap sebagai gunungnya pemula, seringkali didaki para pendaki kawakan. Sementara (puncak) Gunung Semeru yang medannya cukup berat, bahkan telah beberapa kali meminta korban, tak jarang dijadikan sebagai gunung pertama bagi para pendaki pemula.
Tak ada yang salah dengan pola ini. Sah-sah saja. Toh tak ada pasal baku yang mengatur bahwa pendaki pemula hanya boleh mendaki Gunung A, B, dan C, dan tidak boleh mendaki Gunung X, Y, dan Z. Selama mental dan fisik dirasa kuat, sikat!
Namun… alangkah baiknya bila para pendaki pemula memulai petualangannya dari gunung-gunung yang relatif mudah. Alasannya, selain menghindari kemungkinan trauma (baca: kapok), juga sebagai sarana latihan penyesuaian diri—baik secara fisik, mau pun mental—terhadap lingkungan yang baru.


Rencanakan waktu eksekusi dan durasi pendakian
Para pemula, sangat dianjurkan memilih waktu pendakian pada musim panas/kemarau atau musim pendakian. Sebisa mungkin, hindari pendakian di musim hujan. Karena, selain usaha yang dibutuhkan jauh lebih banyak, baik secara fisik mau pun mental, mendaki (hiking) di musim hujan sangat rentan dihadang berbagai ancaman perjalanan, seperti; basah kuyup, jalur yang licin, badai gunung, pohon tumbang, dan lain sebagainya.
Tentukan Waktu dan Durasi Pendakian
Tentukan Waktu dan Durasi Pendakian
Untuk durasi perjalanan, bisa dimulai dengan rentang 2 hari 3 malam pergi-pulang. Jangan terlalu panjang. Ingat! Suhu di gunung itu, dingin(nya bukan main). Bila kalian belum terbiasa, terlalu lama berada di sana pasti akan sangat menyiksa.
Kabar baiknya, peluang melakukan perjalanan dengan rentang sesingkat ini bisa kita peroleh sebanyak 4 kali dalam sebulan, pada setiap akhir minggu (weekend). Jadi, bagi kalian yang berstatus karyawan, tentu tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan ijin cuti, kan?
Sementara bagi yang masih berstatus pengangguran, mari kita doakan semoga mereka segera mendapatkan pekerjaan. Amin. *Pendaki syariah mode


Persiapan fisik
Suhu di pegunungan dengan suhu kota, kontras berbeda. Perubahan suhu yang relatif cepat tentu akan berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh seseorang. Persis seperti dampak yang ditimbulkan oleh perubahan musim atau pancaroba.
Bila perubahan aktifitas dari kota ke gunung ini tidak didahului dengan persiapan fisik dan persiapan aklimatisasi yang optimal, dikhawatirkan dapat mengganggu jalannya proses pendakian. Entah itu mengganggu diri sendiri, terlebih lagi mengganggu teman-teman lain dalam satu tim.
Persiapan Fisik
Persiapan Fisik
Contoh sederhananya; terkilir.
Otot kaki yang jarang digunakan untuk berolahraga cenderung rentan cedera bila tiba-tiba dipaksa melakukan pekerjaan berat seperti berjalan selama berjam-jam (trekking). Padahal itu pun belum menghitung kondisi medan yang menanjak dan beban tambahan di punggung kita—yang berat rata-ratanya, minimal 5 kg per orang.
Bila cederanya masih ringan, yang kewalahan paling-paling, ya, diri kita sendiri. Tapi, bila otot yang cedera ringan tersebut terus dipaksakan, lambat laun pasti menjadi cedera berat. Kalau sudah begini, atas nama solidaritas, teman-teman lain tentu bakal ikut menanggung akibatnya.
Sekarang coba bayangkan:
Bila cedera ini terjadi pada masa awal-awal pendakian, padahal jarak camp site (tempat mendirikan tenda) yang dituju masih jauh, serta harus melewati beberapa pos/shelter lagi dengan medan yang terjal pula. Serepot apa kira-kira yang akan dirasakan si cedera dan anggota tim lain? Bagaimana pula repotnya saat pulang atau turun gunung nanti?
Di gunung, segalanya mungkin terjadi, bahkan kadang sulit dipahami. Orang yang kita kenal paling kuat, belum tentu menjadi yang terkuat saat berada di sana. Si Kerempeng belum tentu lebih lemah daripada Si Kekar.
Lalu, persiapan fisik seperti apa sajakah yang bisa dilakukan sebelum aktifitas naik gunung ini dilaksanakan? Berikut, beberapa di antaranya:
  • Lari. Olahraga murah meriah ini bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Asal jangan terlalu larut malam, apalagi sambil membawa banda orang. Target yang disasar dari olahraga lari ada 2, yaitu; stamina dan kekuatan kaki. Di mana, keduanya merupakan komponen fisik vital yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya seseorang saat melakukan kegiatan pendakian.
  • Jalan dengan beban. Selain sebagai alat bantu simulasi mendaki, latihan ini juga bertujuan untuk menguatkan sektor kaki serta tubuh bagian atas. Ia bisa dilakukan secara rutin. Boleh seminggu sekali, seminggu 2 kali, atau seminggu 3 kali. Berat bebannya boleh bervariasi, mulai dari 3 kg, 5 kg, 10 kg, 1 kuintal, 1 ton. Terserah. Itu hak kalian. Sekuatnya saja.
Saya sendiri, biasa latihan dengan menggendong beban seberat 10 kg sambil berjalan pelan selama 1-2 jam. Semakin berkontur jalur latihannya, semakin baik pula kualitas simulasinya.
  • Renang. Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kapasitas oksigen yang mampu kita hirup. Bila oksigen yang kita butuhkan semakin meningkat seiring level kedalaman yang dicapai saat melakukan kegiatan menyelam, begitu pun dengan kegiatan mendaki.
Semakin tinggi elevasi gunung yang didaki, semakin tipis pula kadar oksigen yang tersedia. Yang karenanya, tubuh kita akan membutuhkan lebih banyak asupan oksigen daripada biasanya. Dan renang berguna untuk mempersempit celah, antara pola kebutuhan oksigen di kota dengan di ketinggian.
  • Aklimatisasi. Secara umum, aklimatisasi berarti membiasakan diri dengan perubahan suhu, iklim, atau kondisi baru. Untuk aktifitas pendakian, latihan ini menempati urutan vital kedua setelah lari. Bagi kalian yang tinggal di daerah pegunungan, proses aklimatisasi ini mungkin tak lagi diperlukan. Namun bagi yang terbiasa tinggal di wilayah perkotaan atau dataran rendah, latihan ini sangat disarankan untuk dilakukan. Bagaimana caranya? Silahkan baca artikel sebelumnya.
Ada beberapa catatan yang perlu kalian pertimbangkan terkait proses aklimatisasi di lokasi pendakian nanti, yaitu; perbanyak minum, mendaki secara perlahan, hindari kafein dan nikotin, serta hentikan pendakian bila gejala altitude sickness—seperti; mual, muntah, pusing,hyperventilation (bernapas secara berlebihan dan dalam), limbung, dan lain sebagainya—tiba-tiba menyerang, sekecil apa pun itu.
  • Makan teratur dan istirahat cukup. Para pakar percaya, bahwa penyakit itu paling banyak diakibatkan dari pola hidup yang tidak sehat. Mulai dari mengkonsumsi minuman dan makanan yang tidak sehat, sampai pola tidur yang tak teratur.
Bila ukuran ‘latihan’ hanya sebatas pada aktifitas melatih otot dan membakar kalori saja, tentu poin terakhir ini tidak termasuk dalam kategori, bukan?
Tapi jangan salah. Melulu melatih otot dan membakar kalori tentu tidak akan berarti jika tidak diimbangi dengan proses recovery yang memadai. Baik recovery fisik mau pun mental.
Nah! Terkait memilih makan makanan yang sehat, sebenarnya kita bisa berguru pada binatang kambing. Ia rajin betul mengkonsumsi “sayur-sayuran hijau” dan selalu menghindari mengkonsumsi makan-makanan berkolesterol. Makanya mereka selalu sehat wal’afiat.
Kalau tidak percaya, coba saja kalian cari. Mana ada kambing yang mengidap penyakit darah tinggi atau stroke? Padahal kita semua tahu, mereka itu satu badan isinya kolesterol semua. Ya, kan? Hail Shaun the Sheep!


Persiapan mental
Naik gunung jelas membutuhkan kesiapan fisik yang prima. Namun itu saja tidak cukup. Kita juga butuh kesiapan mental yang optimal. Jadi, bila diibaratkan, fisik itu mesinnya, sementara mental adalah bensinnya. Sesangar apa pun tenaga yang dimiliki mesin, kalau tidak ada bensin, tetap tidak bisa bekerja.
Persiapan Mental
Persiapan Mental
Maka tak heran bila setiap peserta baru hampir seluruh organisasi pecinta alam harus mengalami yang namanya masa perploncoan. Bahkan kadang harus rela menerima kekerasan fisik dari para seniornya. Dan yang disebutkan terakhir inilah yang membuat saya mengurungkan niat mendaftarkan diri pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam di kampus dahulu. *Curhat colongan
***
Terkait persiapan mental. Ada teknik sederhana untuk mengontrol emosi yang pernah saya temukan, coba sendiri, dan berhasil. Dan kabar baiknya, kita tak perlu mengeluarkan biaya sama sekali alias gratis! Yah, cocok lah untuk ukuran kantong saya. Apalagi kalian. :p
Untuk mengetahui seperti apa wujud latihannya, ini dia tekniknya:
Antara pukul 11.00 – 13.00 siang, cobalah jalan kaki/trekking ringan di bawah terik sinar matahari langsung. Hindari bayang-bayang pohon dan gedung. Usahakan sebisa mungkin, mimik/ekspresi wajah kalian tidak berubah walau panasnya sangat menyengat.
Bayangkan layaknya kalian sedang berjalan di dalam ruangan ber-AC yang nyaman. Posisi badan tegap, dengan pandangan lurus ke depan. Jangan menunduk!
Bila mengontrol mimik/ekspresi wajah dirasa sulit, gantilah dengan senyum ringan, tapi jangan ditujukan ke setiap orang. Takut dikira gila.
Lakukan latihan ini sesering mungkin, dengan rentang minimal 30 menit per sesi latihan. Saya pribadi melakukan latihan ini rutin selama 3-6 bulan, hampir setiap hari. Dan sebagai hasil akhirnya, tidak hanya mental/emosi saya saja yang lebih terkendali, tapi warna kulit pun jadi jauh lebih eksotis. Persistanning overdosis.
***
Dalam kamus saya, naik gunung itu lebih kepada perkara mental daripada fisik. Bukan berarti fisik tidak penting. Ia juga penting. Hanya, mental lah yang seringkali menjadi faktor penentu berhasil tidaknya seseorang mencapai puncak/tujuan.
Jika memungkinkan, perhatikan juga kondisi fisik dan mental rekan-rekan satu tim kalian. Bersikaplah proaktif. Siapkan diri memberikan dukungan moral kepada teman-teman yang membutuhkan.
Berpikirlah layaknya masing-masing dari kalian adalah ketua panitia pelaksana, yang sangat ingin acara pendakian tersebut berhasil. Leave no one behindHope for the best, plan for the worst.


Cari info sebanyak-banyaknya
Di dunia maya atau internet, semua informasi tersedia. Mulai dari yang paling umum, sampai yang paling aneh sekali pun. Semua tumplek blek di sana, sehingga yang namanya merencanakan perjalanan, di masa sekarang, bisa dibilang relatif gampang. Tinggal mengetik keyword di textboxpencarian, tekan tombol cari, dan dalam sekejap semua tersedia di depan mata. Kita tinggal pilih saja mau yang mana.
Terlihat mudah, ya?
Pastinya!
Sayangnya, kemudahan ini hanya berlaku untuk pencarian topik-topik yang bersifat umum saja. Sementara informasi yang sifatnya “rare item” atau langka seringkali demikian sulit didapatkan. Sesulit menagih hutang menahun.
Cari Informasi Sebanyak-banyaknya
Cari Informasi Sebanyak-banyaknya
Informasi langka ini bisa mewujud dalam beragam rupa, seperti misalnya;
  • Detil destinasi wisata yang relatif baru dan jarang orang tahu (baca: destinasi wisata anti-mainstream).
  • Data spesifik dan valid tentang sesuatu hal. Pada beberapa kasus yang pernah saya alami, jenis data ini bahkan sangat sulit dicari, walau ia berada dalam ranah topik populer sekali pun. Contohnya saat penggarapan artikel Gunung Bromo beberapa waktu lalu.
Untuk mencari tanggal pasti pembangunan tangga Gunung Bromo saja, saya harus mengacak-acak puluhan dokumen sejarah. Itu pun, hanya mendapatkan tahun perkiraannya saja—yaitu; 1901. Dan tahukah kalian, alasan mengapa tangga tersebut dibangun?
Ia dibangun hanya karena pada saat itu, Gubernur Jendral Hindia Belanda (Willem Roosenboom?) ingin mampir dan melihat dari dekat kawah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Suku Tengger tersebut.
Secara garis besar, informasi yang sebaiknya dicari sebelum kita melakukan kegiatan naik gunung, terbagi dua, yaitu; informasi yang terkait dengan perjalanan menuju lokasi, dan informasi yang terkait dengan lokasi pendakian itu sendiri. Jadi, bila kita breakdown, kedua jenis informasi ini akan tampak seperti berikut:
Terkait perjalanan
  • Estimasi/perkiraan biaya perjalanan. Mulai dari transportasi, akomodasi, makan, guide, dan lain sebagainya.
  • Moda transportasi yang bisa digunakan untuk sampai di tujuan—darat, laut, dan/atau udara. Banyak tersedia atau jarang, mahal atau murah, sewa atau umum, bila menyewa maksimal bisa mengangkut berapa orang, harus booking terlebih dahulu atau langsung on the spot, dan lain-lain.
Terkait lokasi pendakian
  • Peta topografi (peta kontur). Banyak pendaki Indonesia menganggap peta kontur “tidaklah terlalu penting.” Alasannya sederhana; pertama, jalur pendakian yang ada umumnya sudah sangat jelas karena memang sering dilalui. Kedua, kalau pun jalurnya sulit, toh masih bisa mengandalkanguide atau teman-teman yang lebih senior atau lebih dahulu datang ke gunung bersangkutan. Dan yang ketiga, selain peta kontur ini biasanya sulit didapat, harganya pun relatif mahal.
Sejauh yang saya ingat dari bertahun-tahun aktifitas naik gunung, baru sekali saya menggunakan peta kontur plus tambahan perangkat Global Positioning System (GPS), yaitu pada saat mendakiGunung Papandayan via jalur Cibutarua menuju ke Tegal Panjang.
Jalur tersebut sangat jarang dilalui pendaki (jalur penduduk) sehingga membuat trek yang ada, rata-rata telah tersamarkan oleh ilalang-ilalang baru. Jadi, tanpa peta kontur dan GPS, kemungkinan tersesatnya cukup tinggi. Apalagi bagi yang baru pertama kali bertandang ke Tegal Panjang.
Untuk gunung-gunung yang sering didaki dan memiliki trek serta papan petunjuk yang jelas, bagian “Peta Topografi” bisa kalian lewati. Namun untuk gunung-gunung yang jarang didaki, sebisa mungkin, usahakanlah membawa, menggunakan, dan mempelajarinya. Karena peta ini bisa jadi penolong bilamana, amit-amit jabang baby, tersesat.
Tentu, sebelum bisa membaca peta topografi, kalian diharuskan mempelajari materi navigasi. Pe-er memang. Tapi begitu dikuasai dan dibutuhkan, kemampuan ini bisa menyelamatkan nyawa banyak orang termasuk diri kalian.
  • Pos/shelterCarilah informasi terkait jarak antar pos/shelter, elevasi, perkiraan lama perjalanan antar masing-masing pos tersebut, serta di pos/shelter mana saja kalian bisa/boleh mendirikan tenda. Tujuannya, tentu untuk menyusun strategi pendakian terbaik agar berkesesuaian dengan kemampuan seluruh anggota tim.
  • Sumber air. Setiap gunung memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Ada yang berkelimpahan sumber air (seperti; Gunung Semeru, Gunung Gede Pangrango, Gunung Papandayan, dan Gunung Rinjani), ada pula yang tidak memiliki sumber air sama sekali (seperti; Gunung Merapi dan Gunung Cikuray).
Ketahuilah status ketersediaan sumber air pada gunung yang akan kalian daki. Dalam kegiatan petualangan alam liar, air termasuk dalam salah satu komponen vital. Kekurangan air bisa menyebabkan dehidrasi, dan pada level yang lebih tinggi lagi, ia berpotensi membahayakan nyawa.
Perlu dicatat. Semakin dingin suhu gunung yang didaki, semakin cepat pula proses dehidrasi yang akan kalian alami. Karenanya, mengkonsultasikan volume kebutuhan air kepada pendaki-pendaki yang lebih senior atau ranger gunung setempat adalah perbuatan bijak.
  • Nomor-nomor telepon penting. Di antara semua poin yang ada, mungkin cuma poin ini saja yang paling absurd. Karena kita wajib menyediakannya, namun sangat tidak dianjurkan menggunakannya. Sebab, bila sampai menggunakannya, artinya kita sedang ‘celaka.’
Catat dan simpanlah nomor-nomor telepon penting, seperti; Search and Rescue (SAR),ranger/volunteer/kelompok pecinta alam setempat, rumah sakit terdekat, dan pihak-pihak berwenang lainnya. Buat beberapa kopi, dan bagikan kepada masing-masing peserta, sehingga bila sesuatu yang buruk terjadi, semua peserta memiliki informasi, dan tahu harus menghubungi siapa.
  • Prakiraan cuaca. Berdasarkan pengalaman pribadi, cuaca di gunung itu cenderung tidak bisa diprediksi. Walau misalnya, sekarang sedang musim hujan, belum tentu saat kita naik gunung nanti juga akan hujan. Bisa saja, sepanjang berhari-hari masa pendakian, cuacanya malah cerah secerah-cerahnya. Begitu pun sebaliknya.
Maka jangan heran bila suatu saat nanti, kalian bertemu dengan pendaki yang baru turun gunung dan mereka mengatakan diguyur hujan selama berada “di atas,” tapi setelah kalian mendaki selama beberapa hari, malah tak ada hujan sama sekali. Jadi, menurut istilah saya, gunung itu seperti ‘memiliki’ prakiraan cuacanya sendiri.
Namun demikian, potensi hujan, cerah, badai, atau berkabut itu memang lebih berpeluang terjadi di musim yang bersangkutan. Rasionya berkisar antara 75:25, 85:15, sampai 100:0.
Misal:
Diketahui, saat ini mayoritas sedang musim hujan. Dengan menggunakan perhitungan rasio di atas, maka potensi cuaca yang akan kita hadapi saat mendaki akan tampak seperti ini:
  • 75% hujan, 25% cerah
  • 85% hujan, 15% cerah
  • 100% hujan, 0% cerah
Pun sebaliknya. Jika saat ini sedang musim panas/kemarau, maka, kemungkinannya akan seperti ini:
  • 75% cerah, 25% hujan
  • 85% cerah, 15% hujan
  • 100% cerah, 0% hujan
Untuk mengetahui kondisi cuaca pada gunung yang hendak kalian daki, sebaiknya konsultasikan dengan contact person atau petugas ranger setempat—bisa via telepon, email, atau datang langsung bila lokasinya relatif dekat.
Atau, alternatif lainnya, bisa dilakukan dengan cara memantau terus situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca di Indonesia.
  • Pengalaman pendaki senior. Walau faktor usia kadang sering menentukan rentang pengalaman mendaki seseorang, namun di dunia petualangan, tak jarang, ia overlapping dengan level pengalaman.
Cukup banyak kasus di mana pendaki yang jauh lebih muda, ternyata memiliki lebih banyak pengalaman ketimbang pendaki-pendaki… aduh, gak enak ngomongnya… tua.
Galilah informasi dari mereka-mereka yang sudah pernah, minimal satu kali, mendaki gunung yang hendak kalian tuju. Bila tak ada satu pun teman yang pernah ke sana, kalian bisa memanfaatkan blog, situs, atau forum-forum petualangan yang banyak tersebar di internet.
Tak punya akses internet sendiri? Bisa menumpang pada teman. Tak ada teman yang punya akses internet? Tinggal mampir ke warnet. Tak punya uang untuk main di warnet? Patungan dengan teman-teman. Tak punya uang, teman, akses internet, dan warnet?
Lah! kalian bisa mampir ke sini (simplyindonesia) lewat mana?
  • Peraturan yang berlaku. Setiap gunung memiliki peraturannya (larangan dan anjuran) sendiri-sendiri yang harus ditaati. Mulai dari cara booking/registrasi pendakian (online dan/atau offline) hingga prosedur pendakian, Tujuannya, selain untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang terlibat, juga menjaga kelestarian alam tempat mereka berkegiatan.
Peraturan ini sendiri terbagi dua; tertulis, dan tidak tertulis. Yang tertulis biasanya berupa peraturan resmi yang memang dikeluarkan oleh pihak pengelola gunung bersangkutan. Sementara peraturan tidak tertulis—walau tidak mesti—umumnya lebih banyak melibatkan unsur-unsur klenik/mistis.


#BOEANA_Adventure

Rabu, 13 April 2016

Curahan Hati Sang Petualang








KATA - KATA  BIJAK DARI SANG PETUALANG

Gunung merupakan sebuah tempat dimana kita dapat banyak belajar kepada alam raya, tentang kebijaksanaan dan kedamaian hati, serta makna dari kehidupan yang kita jalani. Pendakian gunung-gunung tinggi banyak mengajarkan kepada manusia tentang berbagai hal dalam kehidupan. Banyak pendaki yang menjadi lebih bijaksana setelah belajar pada alam dalam setiap pendakian gunung yang dilakukannya. Gunung seperti sebuah surga yang selain memberikan kita pesona keindahan, juga memberi pelajaran tentang kehidupan.

Banyak sekali kutipan kata-kata pendaki gunung yang telah menginspirasi kehidupan orang-orang. Kata-kata tersebut begitu indah dan dapat memberikan motivasi tersendiri karena memang didapat dari mereka yang telah belajar kepada alam lewat mendaki gunung-gunung tertinggi. Selain kutipan kata, cerita-cerita perjalanan mereka pun amat sangat banyak memberikan inspirasi bagi kehidupan masyarakat, terbukti dengan banyaknya karya tulis maupun film yang mengambil sumber cerita dari perjalanan hidup para pendaki gunung.

Kali ini, kami akan memberikan beberapa kutipan kata-kata pendaki gunung yang mungkin akan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi anda. Beragam kutipan kata-kata ini, kami ambil dari berbagai sumber. Kata-kata indah ini berbicara tentang pendakian, alam raya, dan kehidupan.

 "Happiness only real when shared." 
 Christopher McCandless
"Kebahagiaan hanya akan menjadi nyata, saat kita berbagi."

 "It is not the mountain we conquer but ourselves." 
 Edmund Hillary 
"Bukan gunung yang harus kita taklukan, melainkan diri kita sendiri."

 "It’s always further than it looks. It’s always taller than it looks. And it’s always harder than it looks."
 3 Rule of Mountaineering 
"Selalu lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih sulit dari yang terlihat."

 "Each fresh peak ascended teaches something." 
 Sir Martin Convay
"Setiap puncak yang baru didaki selalu mengajarkan sesuatu."

 "Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan apapun selain jejak, jangan membunuh apapun selain waktu." 
 Anonymous

  "It was our preparation, knowledge and experience that kept us alive." 
 Rachel Kelsey
 "Adalah persiapan, pengetahuan, dan pengalaman yang membuat kita tetap hidup."

 "There can be no happiness if the things we believe in are different from the things we do." 
 Freya Stark
"Tidak ada kebahagiaan, jika apa yang kita percaya berbeda dengan apa yang kita lakukan."

 "If you are seeking creative ideas, go out walking. Angels whisper to a man when he goes for a walk." 
 Raymond Inmon
"Jika kamu sedang mencari ide kreatif, keluarlah dan berjalan kaki. Malaikat berbisik kepada manusia, ketika dia pergi untuk berjalan kaki."

 "The experienced mountain climber is not intimidated by a mountain, he is inspired by it." 
 William Artur Ward
"Pendaki berpengalaman tidak terintimidasi oleh gunung, namun terinspirasi."

 "You need special shoes for hiking, and a bit of a special soul as well." 
 Terri Guillemets 
"Kamu butuh sepatu spesial untuk mendaki, dan juga jiwa yang spesial."

"Somewhere between the bottom of the climb and the summit is the answer to the mystery why we climb." 
Greg Child
"Suatu tempat antara wilayah bawah pendakian dan puncak adalah jawaban atas misteri mengapa kita mendaki."

"Study nature, love nature, stay close to nature. It will never fail you." 
Frank Lloyd Wright
"Belajar tentang alam, mencintai alam, dan tetap dekat dengan alam. Hal itu tak akan membuat kamu gagal."

 "Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed." 
 Mohandas Gandhi
"Bumi menyediakan cukup sumber daya untuk memuaskan setiap kebutuhan manusia, namun tidak untuk setiap keserakahan manusia."

"Now I see the secret of making the best person, it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth."
Walt Whitman
"Sekarang saya tahu rahasia membentuk manusia terbaik, yakni dengan tumbuh di alam terbuka, serta makan dan tidur bersama alam."

 "Wilderness is not a luxury but a necessity of the human spirit, and as vital to our lives as water and good bread." 
 Edward Abbey
"Alam raya bukanlah sebuah kemewahan, melainkan suatu kebutuhan bagi jiwa manusia, dan itu sama pentingnya dengan kebutuhan air dan makanan yang baik bagi tubuh kita."

Itulah beberapa kutipan kata-kata pendaki gunung yang sangat menginspirasi kehidupan. Kutipan pertama dari Chris McCandless bisa anda lihat di film yang sangat menginspirasi tentang kisah hidup beliau, yang berjudul Into the Wild. Jika ada kesalahan dalam penerjemahan kata-kata tersebut, mohon dimaafkan, dan silahkan memberikan koreksi dan tambahan pada kolom komentar.

Kali ini saya juga akan menambahkan beberapa gambar kata kutipan dari para penggiat alam yang sangat menginspirasi banyak orang.